Showing posts with label Penerjemah. Show all posts
Showing posts with label Penerjemah. Show all posts

Tuesday, November 19, 2013

Perpisahan Sesaat

Setiap keputusan pasti ada risiko yang harus diambil. Pasti ada sisi positif dan negatifnya. Keputusan adalah pilihan. Pilihan itu yang harus aku pilih.

Setelah bekerja di sebuah SLB selama satu tahun lebih, banyak pengalaman yang aku dapatkan di sana. Sebagai fresh graduate tentunya yang dicari adalah pengalaman sebanyak-banyaknya. Di SLB mendapatkan banyak sekali pelajaran dalam hal pendidikan, kehidupan, relasi, dan sistem sekolah yang dulu tidak ada dalam mata kuliah.

Memang sedih berpisah dengan SLB dan murid-muridku di sana. Namun yang lebih sedih adalah berpisah dengan kawan-kawan di Gerkatin Solo dan Deaf Volunteering Organization (DVO). Mereka sudah menjadi keluargaku selama di Solo. Banyak hal yang aku dapatkan dari sana. Keluh, lelah, gesekan, begadang, senang, bangga, dan semua perasaan bahagia terkumpul menjadi satu di sana.

Ada pertemuan pasti ada perpisahan. Kalimat yang mudah diucapkan saat memberi semangat kepada kawan, tapi entah kenapa begitu sulit dijalani sendiri. Kalau ada pertemuan janganlah ada perpisahan, inginnya seperti itu. Egois sekali memang. Tapi sekali lagi, ini adalah pilihan. Dan setelah berpikir berbulan-bulan akhirnya kuputuskan untuk pindah dari Solo dan meninggalkan kawan-kawan di sini. Meninggalkan bukan dalam artian lepas dari mereka sepenuhnya. Hanya berpisah jarak, namun masih tetap berada dalam dunia tuli.

Ya itu kalimat penghiburku, “hanya berpisah jarak, tapi tetap dalam satu dunia, tuli.” Begitu berat meninggalkan mereka yang telah membentuk pemikiranku bahwa kita harus sadar di suatu kelompok besar, ada sebuah kelompok minoritas yang memiliki hak-hak yang setara dengan kelompok mayoritas.

Kepindahanku dari Solo adalah ke Bekasi. Membangun sebuah sekolah baru dengan kurikulum yang berbeda dengan di Indonesia. Melihat banyaknya tuli yang belum mengenal jati dirinya sebagai tuli, banyak yang belum sadar bahasa isyarat adalah hak mereka, dan banyak kemampuan membaca tuli dewasa yang sama dengan kemampuan membaca anak SD berpendengaran normal. Bertahun-tahun bersekolah kenapa kemampuan membaca dan menulis tuli masih rendah? Apa yang salah?

Di sekolah yang akan dibangun di Bekasi inilah yang membuat aku pindah dari Solo. Kota yang banyak memberikan kenangan dan pengalaman. Di sekolah Bekasi akan menggunakan kurikulum yang berbeda dengan kurikulum yang dipakai oleh SLB. Di sana menggunakan Metode Bilingual. Yaitu bahasa isyarat sebagai bahasa pengantar pertama dalam pembelajaran. Dan bahasa Indonesia adalah bahasa kedua.

Aku belum tahu akan seperti apa kehidupan di Bekasi. Yang di Solo kehidupan sudah tertata. Pagi hari mengajar di SLB, sore belajar, dan malamnya kegiatan bersama Gerkatin Solo dan DVO. Tiada hari tanpa bertemu mereka. Bahkan pada hari Minggu dari pagi sebelum ayam berkokok hingga berganti hari masih bersama kawan-kawan Gerkatin Solo dan DVO. Aktivitas yang melelahkan namun terasa begitu menyenangkan.

Solo begitu banyak kegiatan antara tuli dan volunteer, entah itu ada rapat rutin ataupun belajar Bahasa Indonesia ataupun belajar Bahasa Isyarat. Tiap hari ada aja kegiatan. Di Bekasi bagaimana budaya tuli di sana, aku belum punya gambaran. Bahkan aku tidak punya kenalan tuli asal Bekasi. Tapi biar bagaimanapun, ini masih dalam dunia tuli, dunia yang sangat luar biasa.

Telah banyak kegiatan yang aku lalui bersama Gerkatin Solo. Setiap dua minggu sekali kami membuka stand bahasa isyarat di Car Free Day (CFD). Belajar bahasa isyarat di CFD ini adalah yang pertama di Indonesia yang digelar secara rutin. Hal yang sangat membanggakan tentunya. Melihat teman-teman tuli yang konsisten membuka stand di CFD, serta melihat kompaknya kerja sama antara tuli dan volunteer. Aku awalnya tidak mengetahui seberapa besar dampak dari membuka stand di CFD ini, karena kami melakukannya dengan harapan masyarakat Solo sadar akan adanya tuli yang memakai komunikasi dengan bahasa isyarat dan mengedukasi masyarakat bahwa bahasa isyarat bukan “bahasa tarzan.”

Di benak teman-teman tuli dan volunteer tidak ada harapan yang tinggi dengan stand bahasa isyarat di CFD ini. Hanya sebatas masyarakat mau belajar bahasa isyarat dan mengerti setidaknya abjad bahasa isyarat. Namun, Tuhan memiliki rencana lain. Kami tidak menyangka bahwa kegiatan CFD yang selalu kami unggah di media sosial ternyata memiliki dampak yang sangat besar bagi tuli, bagi tuli di Indonesia. Wow apa ini terlalu berlebihan? Tuli di Indonesia memandang kegiatan kami sebagai kegiatan yang luar biasa, yang tak pernah dilakukan oleh komunitas tuli dimanapun. Secara diam-diam kegiatan kami di CFD menjadi inspirator bagi komunitas tuli daerah lain untuk melakukan hal yang sama.

Selain kegiatan di CFD, kami melakukan kegiatan dengan berbagai komunitas di Solo. Sekali lagi, harapan kami hanya bisa ikut berpartisipasi dalam kegiatan komunitas di Solo dan menjalin kerja sama dengan mereka. Tapi, itu tidak sesuai harapan kami karena kami bahkan dilibatkan lebih jauh lagi. Woow di luar prediksi kami semua. Setiap ada acara di Solo, Gerkatin Solo tidak pernah absen dari undangan, baik itu kegiatan pemerintah maupun kegiatan sosial dan komunitas.

Semakin berkembangnya Gerkatin Solo, kebutuhan akan tenaga yang support kegiatan juga semakin besar. Deaf Volunteering Organization (DVO) yang baru seumur jagung pun menjadi semakin berkembang pesat. Banyak volunteer baru yang bergabung bersama DVO. Banyak sekali kegiatan yang diadakan oleh Gerkatin Solo dan DVO. Dimana ada Gerkatin Solo pasti di situ ada DVO. Karena kami adalah dua kesatuan, dwitunggal. Volunteer yang tergabung dalam DVO kemampuannya sudah semakin meningkat, baik kemampuan dalam volunteering maupun kemampuan dalam berbahasa isyarat. Karena semua kegiatan Gerkatin Solo berhubungan dengan bahasa isyarat maka mau tidak mau kami semua berkomunikasi dengan bahasa isyarat.

Dan dari situlah kemampuan bahasa isyarat teman-teman volunteer diasah. Kami bisa karena terbiasa. Karena terbiasa menjadi teman, sahabat, volunteer, rekan, tim, dan keluarga dengan kawan-kawan tuli. Kami menganggap semuanya adalah keluarga. Ikatan sudah sangat kuat. Itulah yang membuat aku berat meninggalkan mereka semua. Meninggalkan semua kenangan yang sudah tertancap di memori hati.

Baiklah kawan, meninggalkan kalian adalah hal yang sangat berat, sedih. Sedih berpisah dengan kalian. Meninggalkan berjuta-juta kenangan dengan kalian. Melewatkan jutaan kenangan yang akan kalian ciptakan. Melihat kalian berkembang tanpa mengikuti proses kalian. Akan terjadi banyak hal yang tak aku rasakan bersama kalian. Tapi inilah hidup, ada pertemuan pasti ada perpisahan. Hanya jarak yang memisahkan aku dan kalian. Namun tahukah kalian, hati dan pikiranku penuh dengan memori perjalanan kita.

Semoga sukses dan semakin berkembang kawan-kawan Gerkatin Solo dan Deaf Volunteering Organization (DVO). Perbanyak masyarakat yang sadar akan keberadaan kalian. Raih cita-cita membentuk masyarakat inklusi dalam waktu cepat. Sebarkan virus-virus inklusi di Solo dan tentunya di Indonesia. Tetaplah menjadi barometer tuli Indonesia. Semoga sukses kawan, doaku selalu menyertai kalian. 

Deaf Volunteering Organization (DVO) & Gerkatin Solo

Tuesday, November 12, 2013

Deaf Volunteering Organization (DVO) Bersama Karya Pelangi


Melihat dunia, melihat indahnya ciptaan Sang Pencipta. Merasakan nikmat segarnya udara yang bebas kita hirup. Mendengar gemiricik sungai dan derunya ombak lautan semakin menambah sempurna kehidupan kita di dunia. Merasakan dengan seluruh indera yang kita miliki belum mampu membuat diri ini bersyukur akan nikmatnya hidup di dunia. Masih merasa tidak sempurna hidupmu?

Mari tengok sahabat kita yang belum tentu mampu merasakan semua itu, tapi semangatnya bahkan ribuan kali lebih besar dari kita. Apakah mereka merasa tak sempurna? Tidak, justru mereka merasakan kesempurnaan karena rasa syukur mereka kepada Tuhan. Melihat semangat kawan-kawan yang selalu bersemangat dalam meraih asa, Karya Pelangi menjadi wadah yang tepat untuk menampung seluruh kisah inspiratif mereka.

Love, Dream, and Disability. Tema yang diangkat oleh Karya Pelangi. Deaf Volunteering Organization (DVO) melihat Karya Pelangi kelak dapat menjadi inspirator serta motivator bagi para pembaca. Karena Karya Pelangi memiliki visi yang sama dengan DVO, sehingga DVO sangat senang dapat mendukung acara ini. Sesuai nama kami, Deaf Volunteering Organization, kami bergerak dalam dunia disabilitas, khususnya tuli. Namun kami adalah volunteer, yaitu orang-orang berpendengaran normal yang berjuang bersama dengan organisasi tuli dalam memperjuangkan hak-hak tuli di Indonesia.

Perjuangan kawan-kawan tuli di Indonesia masih terus dilakukan. Memang sepertinya tuli tidak butuh banyak bantuan layaknya kawan kita yang berkursi roda, maupun tunanetra. Para pemakai kursi roda dapat aksessibilitas yang cukup baik dengan memodifikasi tangga menjadi sedemikian rupa sehingga dapat diakses dengan menggunakan kursi roda tersebut. Namun bagaimana dengan tuli? Mereka tidak mengalami hambatan fisik maupun intelektual. Apa yang sebenarnya mereka butuhkan?

Tuli membutuhkan akses informasi. Bisa kita lihat, cara berkomunikasi mereka adalah  menggunakan bahasa isyarat. Bahasa isyarat adalah hak tuli, tapi tanpa disadari bahwa selama ini kita telah merampas hak mereka. Di sekolah-sekolah mereka dipaksa menggunakan oral dan dilarang memakai bahasa isyarat. Banyak anggapan “miring” bahwa bahasa isyarat akan membuat tuli menjadi bodoh. Sangat ironis memang, yang seharusnya dalam dunia pendidikan tuli akan mendapatkan banyak informasi, tapi tak semua informasi itu terserap karena disampaikan dengan oral.

Dunia pendidikan tak mampu memberikan informasi yang utuh kepada tuli, maka tuli mencari sumber informasi lain, menonton TV salah satu alternatifnya. Seperti yang kita tahu, TV adalah sumber informasi yang cepat dan selalu up to date. Banyak peristiwa yang baru saja terjadi di belahan dunia lain dan dapat ditayangkan di TV dalam waktu yang hampir bersamaan. Televisi sangat menarik bagi kita, karena merupakan media audio-visual. Tapi sekali lagi, tuli tidak mendapatkan haknya akan informasi. Di TV tidak ada penerjemah bahasa isyarat yang dapat menerangkan apa yang ditayangkan kepada kawan-kawan tuli. Sehingga mereka hanya bisa “menonton” TV tanpa mengetahui apa yang diberitakan.

Biasanya anak-anak tuli menonton TV bersama keluarga di rumah, saat menonton acara komedi yang mana seluruh keluarga tertawa tapi anak tuli tidak tahu apa yang lucu dari acara tersebut karena tak mendengar yang dikatakan oleh komedian. Kadang saat kita menunggu panggilan nomer antrean di kantor pemerintahan, yang mana tidak ada informasi visual yang menunjukkan nomer berapa antrean saat itu. Hal ini sangat menyulitkan teman-teman tuli. itu adalah beberapa contoh yang dialami oleh tuli, yaitu keterbatasan akses informasi.

Peran DVO adalah memberikan contoh nyata kepada masyarakat bahwa antara orang dengar dengan tuli bisa berjalan beriringan. Kami memang volunteer, tapi bagi DVO, teman-teman tuli adalah partner, teman, serta sebagai sahabat. Hubungan volunteer dengan tuli begitu dekat dan hangat, karena saat dimana tuli tidak mendapatkan hak-haknyanya, itu adalah luka bagi kami juga.  Kami melakukan banyak kegiatan bersama dengan Gerkatin Solo, antara lain workshop bahasa isyarat, sosialisasi bahasa isyarat, advokasi pemerintah, pembelajaran manajemen organisasi, serta banyak acara-acara yang dilakukan bersama.

Saat ada teman tuli yang mengikuti seminar, dari DVO menjadi interpreter atau penerjemah bahasa isyarat untuk mengisyaratkan apa yang narasumber bicarakan. Karena apabila tidak ada penerjemah dalam acara tersebut, tuli tidak mendapatkan informasi yang utuh dari acara tersebut. Selama tiga tahun ini, DVO bersama Gerkatin Solo terus-menerus mengikuti berbagai acara di luar komunitas tuli. Hal ini bertujuan agar masyarakat mengerti bahwa penerjemah sangat dibutuhkan apabila ada teman-teman tuli yang menghadiri acara tersebut. Kami bersyukur saat ini sudah banyak komunitas di Solo yang semakin paham dengan hak-hak tuli, yaitu penggunaan bahasa isyarat, penerjemah, serta hal-hal yang sifatnya visual. DVO dan Gerkatin Solo berharap, seluruh masyarakat Indonesia bisa memahami hak-hak tuli sebagaimana yang masyarakat Solo tunjukkan kepada tuli. Masyarakat yang menghormati budaya tuli merupakan masyarakat yang inklusif.

Dengan adanya Karya Pelangi ini, harapan kami masyarakat akan lebih menyadari peran serta difabel di masyarakat, karena mereka juga adalah anggota masyarakat. Sudah bukan saatnya kelompok disabilitas ini menjadi kelompok yang termarginalkan. Cerita-cerita dalam Karya Pelangi ini akan menjadi kumpulan cerita inspiratif yang akan menginspirasi orang tua yang memiliki anak dsabilitas, pendidik, masyarakat umum, serta kawan-kawan disabilitas itu sendiri. Mungkin kawan-kawan disabilitas ada yang semangatnya sedang jatuh, harapan kami setelah membaca Karya Pelangi ini dapat membuat mereka menjadi ribuan kali lebih semangat dari hari kemarin.

Kami yakin Karya Pelangi ini akan menjadi sebuah “pelangi” yang sangat indah dan akan muncul banyak “pelangi-pelangi” lain di seluruh pelosok negeri. Mungkin di ujung negeri  banyak sosok pelangi tak berani muncul karena belum ada “hujan” yang turun, harapannya Karya Pelangi ini dapat menjadi “hujan” bagi mereka, sehingga sinar pelangi mereka dapat menerangi sosok-sosok “calon pelangi” yang lain. Bagi para pejuang volunteer dan siapa saja yang ingin menyumbangkan cerita “pelangi”-nya, mari tuliskan ceritamu ke sini. Bagikan kisah inspiratif anda, satu cerita dapat memunculkan satu pelangi. Mari berbagi di sini dan buat semua orang tahu bahwa disabilitas dapat menembus batas.

Deaf Volunteering Organization (DVO) selalu berjuang bersama tuli untuk memunculkan pelangi-pelangi yang masih tersembunyi. Mari bersama-sama mencari sang pelangi! Salam inklusif.

Saturday, March 16, 2013

Menggapai Asa di Kota Apel



          Tahun ajaran baru, selalu menjadi tahun yang paling menyibukkan dan memusingkan bagi para calon mahasiswa. Pilih jurusan ini, universitas itu, kota yang jauh, dan berbagai pertimbangan lain. Bagi yang sudah mendapat restu dari orang tua pasti akan lebih mudah melangkah kemana akan meniti masa depannya. Kita pasti ingin mendapatkan pendidikan di universitas terbaik dengan tenaga pengajar yang terbaik pula.

          Beginilah yang dirasakan oleh sahabatku asal Jogja, Fikri. Dia adalah seorang deaf yang memiliki semangat tinggi untuk kuliah, terutama bidang seni rupa dan desain. Fikri tidak berbeda dengan calon mahasiswa lainnya, ingin mendapatkan pendidikan yang terbaik. Namun “terbaik” bagi Fikri dan bagi kita mungkin tidak sama. Fikri bisa saja berkuliah di universitas terbaik di negeri ini dan mengambil jurusan populer, tapi itu bukan yang “terbaik” dari sisinya.

          Beberapa bulan sebelum pembukaan pendaftaran tes masuk perguruan tinggi negeri, Fikri memberitahuku bahwa ada beasiswa khusus difabel dari Universitas Brawijaya (UB) Malang. Peluang yang sangat bagus, pikirku. Sebelum ini, dia sudah bertemu dengan dosen salah satu perguruan tinggi negeri di Jogja untuk berkonsultasi mengenai sistem perkuliahan dan proses pembelajarannya saat di kelas. Ternyata di universitas tersebut belum ada penerjemah bahasa isyarat untuk mendampingi Fikri di kelas. Pasti dia akan kesulitan dalam mengikuti perkuliahan manakala harus membaca gerak bibir dosen sepanjang perkuliahan. Inilah yang dinamakan bukan yang “terbaik” bagi seorang Fikri, biarpun universitas negeri dan fasilitas memadai.

          Baiklah, mungkin univeritas negeri Jogja tersebut menjadi pilihan terakhir jika di UB tidak lolos. Dua minggu menjelang keberangkatan aku mengunjungi rumahnya di Jogja, untuk tanya persiapan dan berbincang dengan orang tuanya. Karena Fikri minta aku yang menemaninya ke Malang, jadi aku meyakinkan ke orang tuanya bahwa Fikri akan baik-baik saja selama di sana. Orang tua Fikri sangat baik dan memberi kebebasan Fikri untuk mengikuti kegiatan di luar rumah. Hal inilah yang membuat Fikri memiliki rasa percaya diri lebih besar dibanding teman-teman deaf yang lainnya.

           Menyusun rencana keberangkatan dan kepulangan sudah selesai diperhitungkan. Hari Sabtu jam 09.00 adalah interview jurusan yang akan diambil di UB. Maka Fikri datang ke Solo pada hari Jumat sore untuk istirahat sejenak dan malam harinya kami berangkat. Kami sudah memesan tiket travel untuk memudahkan perjalanan karena kami belum pernah mengunjungi Kota Apel itu. Dan agen travel menjanjikan pukul 21.00 sampai di kosku untuk menjemput kami. Jam sudah menunjukkan pukul 21.45, belum ada tanda-tanda travel datang dan aku menelpon agen travelnya berkali-kali tapi nomer tidak aktif. Panik! Emosi!

          “Kita naik motor aja”, kata Fikri dengan menggunakan bahasa isyarat.

          Melewati hutan Ngawi dengan jalan berliku tanpa lampu penerangan serta ketakutanku lebih kepada bis Sumber Kencono yang mungkin saja sopirnya nyetir sambil tidur. “Tidak! Bahaya! Kita tunggu 5 menit lagi aja, pasti travel datang,” jawabku memakai bahasa isyarat.

          Baiklah, lima menit sudah berlalu. Fikri semakin bingung dan wajahnya terlihat seperti ingin gantung diri. “Ayo naik motor aja!” ajakku. “Oke kita berangkat ke Malang naik motor, tadi bilang gak mau naik motor. Woooo,” Fikri berkata dalam bahasa isyarat dengan bersemangat.

          “Kita naik motor, tapi ke terminal” aku berlalu sambil ambil motor. “Kalau besok kita terlambat piye?” Fikri masih khawatir.

          “Diam dan cepat naik!”, kataku dan langsung menuju terminal Tirtonadi (terminal di Solo).

          Sampai di Terminal Tirtonadi dalam 15 menit. Bingung! Bis tujuan Malang sudah tak ada! Tuhan…beri kami jalan. Seperti biasa, kalau di terminal aku merasa bak seorang artis kampung papan atas, banyak yang kepo menanyakan aku akan pergi kemana. Aduhai beginilah rasanya jadi artis, mau pergi saja banyak yang ingin tahu.

          Ada bis berwarna biru tujuan Surabaya, mungkin ini pilihan terakhir kami untuk menuju Malang. Waktu masih terus mengejar.
          “Pak, masih ada yang kosong gak?” tanyaku.
          “Penuh mas. Tapi kalau mau ada kursi cadangan untuk dua orang,” jawab sopir. Tak ada bayangan apapun apa yang dimaksud si sopir tentang “kursi cadangan”.
          “Kita bisa berangkat, tapi cuma ada kursi cadangan, gimana?” tanyaku pada Fikri. “Kursi cadangan? Apa itu?” tanyanya bingung.
          “Hmm mungkin kita nanti di Malang akan bermain sepak bola sebagai pemain cadangan,” jawabku.
          “Haha.. Bodoh,” kepalan tangan Fikri mendarat mulus di kepalaku.

          Kita masuk bis tujuan Surabaya itu, dan akhirnya kami mengetahui apa yang dimaksud dengan “kursi cadangan”. Semacam menikmati hidangan bakso di emperan jalan dan kita duduk di warung itu. KURSI PLASTIK!! Duduk di pojok paling belakang tepat di samping toilet, kaki menahan getaran bis supaya tak jatuh dari singgasana kehormatan “kursi cadangan” ini, sangat nikmat!

          Selama enam jam perjalanan menuju Kota Pahlawan diiringi oleh kelelahan dan segala kata-kata “sanjungan” manis untuk sang travel abal-abal. Tepat pukul 5.30 sampailah di Surabaya. Cukup singkat menginjakkan kaki di kota ini karena harus segera menuju Malang. Jam 06.00 bis menuju Malang berangkat.

          Pukul 08.00 kami tiba di Terminal Arjosari Malang. Sudah dekat dengan kampus UB. Segera bertanya orang kemana arah UB dan naik apa. For your information, di Malang sangat banyak angkot. Di dalam kota semua transportasi umumnya adalah angkot.




Universitas Brawijaya (UB) Malang

          Akhirnya kami tiba di tujuan, di tempat impian Fikri. Tepat pukul 8.00 dan kami harus mencari tempat membersihkan diri. Masjid, satu-satunya pilihan bagi kami. Dengan memasang muka keren, tepis rasa malu, dan aku izin ke penjaga masjidnya. Cuek saja ada mahasiswa lalu lalang melihat kami yang menenteng handuk di area kampus. Oh Tuhan, airnya sangat dingin. Mungkin mandi pagi cukup, gak mandi lagi!

          Persiapan selesai dan kami berjalan menuju Rektorat, yang merupakan tempat diadakannya wawancara untuk menjaring calon mahasiswa disabilitas. Kampus UB rindang, trotoar lebar dan nyaman, sehingga banyak mahasiswa yang berjalan kaki di sini. Selain itu trotoar ini menjadi aksessibel bagi yang memiliki keterbatasan fisik jika menggunakan kursi roda. Cuaca Malang yang cukup dingin tak membuat kami berkeringat berjalan menuju Rektorat yang jaraknya cukup jauh.

          Masuk ke dalam salah satu ruang di Rektorat yang ternyata sudah banyak yang datang dan melakukan interview. Banyak orang tua yang mengantarkan anaknya, ada juga yang diantar oleh teman atau saudaranya. Sepanjang perjalanan dan sampai di ruang ini aku dan Fikri memang ngobrol pakai bahasa isyarat, banyak yang mengira aku tuli. Jadi lucu melihat ekspresi orang yang kebingungan berbicara denganku karena kesulitan mencari-cari formasi tangan hehe.

          Ruangan dipenuhi oleh calon mahasiswa disabilitas yang sedang diwawancarai mengenai jurusan apa yang diinginkannya. Aku melihat percakapan antara calon mahasiswa tuli dengan dosen yang dibantu oleh penerjemah bahasa isyarat, si calon mahasiswa itu ingin masuk jurusan Kedokteran. Berkali-kali dosen itu bilang bahwa untuk kuliah di jurusan Kedokteran tidak boleh mengalami gangguan pendengaran. Aku salut dengan kegigihan sang calon mahasiswa itu yang tetap bersiteguh ingin masuk Kedokteran.

          “Misal kamu tidak masuk di jurusan Kedokteran, kamu pilih jurusan apa?” tanya dosen. “Aku tidak mau jurusan lain!” jawabnya mantap. Semangatnya sangat tinggi untuk masuk jurusan ini. “Kenapa kamu ingin sekali masuk jurusan Kedokteran?”, dosen bertanya lagi. “Karena aku ingin menyembuhkan orang yang sakit,” kata si calon mahasiswa dengan menggunakan bahasa isyarat. Aku melihat wawancara itu dari kejauhan sungguh tercegang dengan motivasinya.

          Kembali melihat Fikri yang sedang wawancara. Seperti dugaanku sebelumnya tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan dia. Fikri sejak awal memang menginginkan masuk jurusan Seni Rupa. Dengan kemampuannya selama di SMK Seni Rupa Jogja, tidaklah sulit jika sewaktu-waktu panitia ingin melihat kemampuan Fikri. Berbagai pertanyaan lancar dijawab Fikri, seperti seni rupa menurutmu apa, sebutkan contoh-contoh karya yang termasuk seni rupa, dan berbagai macam tentang seni rupa. Dia menjawab dengan tepat, karena sebelumnya dia sudah membaca mengenai seni rupa.

          Fikri bilang sedikit kesulitan dalam menjelaskan ke dosen, karena penerjemahnya baru belajar bahasa isyarat dua bulan. Fikri sempat sedikit marah karena mengulang-ulang mengeja kata “d-i-s-k-r-i-m-i-n-a-s-i” saat dia menjelaskan mengenai keadaan para disabilitas. “Sudah jangan marah, besok kalau kamu diterima di sini kamu ajari volunteer UB bahasa isyarat supaya mereka lancar bahasa isyarat,” hiburku.

          Kelalahan perjalanan semalam mulai melanda kami. Tenaga dan mata sudah tak kuat menahan kantuk. Kami mencari masjid di luar UB untuk shalat Dzuhur dan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke Solo. Lantai dingin masjid berhasil membawa kami ke alam mimpi dengan cepat.

          Dalam menggapai mimpi tak semudah menidurkan kepala di bantal, banyak tantangan dalam perjalanan meraih mimpi itu. Menggapai pendidikan setinggi-tingginya tak hanya milik orang “normal”, teman-teman tuli pun bisa meraihnya. Berani bermimpi dan gapai mimpi itu!!

Monday, October 15, 2012

Bahasa Isyarat kok Unik????



Bahasa isyarat…. Dulunya tak pernah terpikirkan akan bisa bahasa isyarat dan memakainya hampir tiap hari. Dulu pernah belajar bahasa isyarat pada tahun 2009 di UNY. Waktu itu ada workshop bahasa isyarat yang diselenggarakan oleh HIMA (Himpunan Mahasiswa) PLB FIP UNY selama 2 hari. Sehari adalah amteri dan hari berikutnya adalah praktik bahasa isyarat. Ya seru bisa bahasa isyarat waktu itu, karena merasakan hal-hal baru yang tak pernah terbayangkan.
            
Setelah pelatihan itu, bahasa isyarat tak pernah lagi dipakai. Seperti ilmu-ilmu yang lain apabila tak pernah digunakan pasti akan hilang, ya seperti bahasa isyarat itu. Waktu itu aku benar-benar sudah tak hafal lagi bahasa  isyarat, bahkan abjad!! Ya eman-eman banget.. Nah pada tahun 2011 kalau tidak salah bulan juni akhir aku bertemu mas Jayeng (mantan ketua Gerkatin Solo) dan Agus (Pengurus Gerkatin Solo) di kampus untuk mengajak ke acara Gerkatin Solo, katanya acara sosialisasi bahasa isyarat.
            
Terakhir belajar bahasa isyarat tahun 2009 dan ketemu mas Jayeng tahun 2011. Hmmmm bisa dibayangkan aku belepotan dan gemeteran ngobrol-ngobrol dengan dia. Aku  tak begitu maksud apa yang dia omongkan dan juga sebaliknya. Yang ada di benakku “iiish memalukan bener nih aku anak PLB ga bisa komunikasi sama mereka”. Apalagi waktu itu mas Jayeng tanya nama-nama beberapa temanku untuk diajak ke acaranya. Ngomong “Puji” berubah menjadi “Budi” di kertas mas Jayeng. hadeeeeh -____-“

Selama tahun pertengahan 2011 hingga sekarang sudah mengalami beberapa pengalaman berbahasa isyarat. Memang bahasa isyarat berbeda dengan bahasa kita waktu ngobrol dengan berbicara. Adakalanya dimana letak “Subjek” ditempatkan di “Predikat” dalam struktur SPOK Bahasa Indonesia. Namun dalam bahasa isyarat hal itu adalah wajar dan membuat deaf mengerti. “Setelah acara ini selesai kita pergi ke Gerkatin” à ini adalah pemakaian bahasa kita saat bicara. Namun dalam bahasa isyarat akan menjadi seperti ini “Acara ini habis, kita (pergi) Gerkatin”. Kata “pergi” masuk dalam kurung karena perbedaan yang masing-masing deaf lakukan saat ngobrol.

Bahasa isyarat menggunakan ekspresi untuk menunjukkan bahwa sesuatu itu sangat sesuatu. “Cewek itu cantik bangeeeet” à berbicara dengan orang pendengar, namun jika dengan isyarat akan menjadi “Cewek itu cantik”. Ya memang terlihat biasa jika ditulis, tapi akan terlihat berbeda jika kita bertemu langsung dengan deaf saat ngobrol. Karena ekspresi “bangeeeet” akan ditampilkan dengan mimik muka yang menunjukkan bahwa cewek itu sangat cantik. Apabila deaf bercerita sedih, maka ekspresi mereka pun akan ikut sedih. Naaah ekspresi adalah hal yang masih sulit aku lakukan, emang dasarnya tak punya ekspresi kali ya -___-“. Masih dalam proses pembiasaan ekspresi saat berbahasa isyarat.

Selain ekspresi, kecepatan deaf berisyarat juga ditentukan oleh dengan siapa mereka berbicara. Apabila mereka berbicara dengan orang dengar yang sudah bisa berisyarat maka mereka cenderung akan lebih cepat pergerakan tangannya. Tapi apabila dengan orang pendengar yang belum bisa atau yang sedang belajar bahasa isyarat maka kecepatan bahasa isyarat mereka akan dikurangi dan disertai dengan suara. Hal ini terlihat pada semua deaf yang pernah aku temui. Saat pertama bertemu dan aku lebih menggunakan oral saat berbincang dengannya, maka deaf itu berbahasa isyarat dengan pelan disertai suara. Mungkin karena dia pikir orang yang diajak berbincang belum bisa bahasa isyarat dan khawatir apabila tak mengerti apa yang ingin disampaikan. Setelah berbincang lama, dia pasti akan menilai sejauh mana kemampuan bahasa isyarat orang dengar tersebut. Menurut pengalamanku selama ini, kira-kira mereka butuh waktu 5-10 menit untuk menilai kemampuan dan menyesuaikan kecepatan bahasa isyaratnya. Contohnya saat aku berada di Sukoharjo dan pertama kali berkenalan dengan deaf, maka deaf itu dipastikan akan menggunakan oral dan sedikit isyarat saat mengobrol. Setelah si pendengar ini mampu menanggapi apa yang dia omongkan secara otomatis dia akan meningkatkan kecepatan isyaratnya. Dan jika kita paham dan menanggapi apa yang dia bicarakan, dipastikan dia akan meningkatkan kecepatan behasa isyaratnya juga disertai dengan “struktur bahasa isyarat” yang sesungguhnya. Struktur bahasa isyarat yang aku maksudkan adalah pola isyarat yang sebenarnya dan bukan menurut kaidah SPOK.

Orang yang berbahasa isyarat juga seperti memperagakan dua karakter yang berbeda dalam satu cerita. Contohnya ada deaf yang cerita akan membeli HP, maka dia benar-benar memperagakan apa yang diomongkannya saat itu dan memperagakan apa yang diomongkan oleh pedagang HP itu. Dan disertai oleh ekspresinya. Jadi seakan-akan kita melihat dua orang yang bercerita, padahal hanya satu orang itu. Hal ini tidak dilakukan saat kita berbicara. Ini merupakan keunikan bahasa isyarat.

Pertama kali menjadi interpret adalah suatu hal yang tak terlupakan. Karena malam setelah acara kepala menjadi sangat panas dan terasa pusing. Aku menyebutnya Interpret Syndrome. Saat tidur kadang tanpa sadar tangan melakukan gerakan-gerakan isyarat. Benar-benar terbawa sampai mimpi. Bahasa isyarat membutuhkan koordinasi otak dan motorik untuk mensinkronkannya menjadi gerakan-gerakan bahasa isyarat.

Dan satu lagi, kadang sebelum menginterpretkan aku butuh pemanasan. Karena di beberapa kali saat-saat pertama memulai interpret kadang-kadang bahasa isyarat yang ada di otak tidak sinkron dengan apa yang aku hasilkan dalam bentuk gerakan isyarat. Perasaan gugup juga mempengaruhi interpret. Seperti dulu yang mas Ponk bilang ke aku “Tenangno sek, ra sah gugup, tarik napas dalam-dalam”. Jadi kesimpulan dari semua ini adalah otak dan motorik harus sinkron, perasaan tenang, banyaknya penguasaan kata-kata isyarat serta intensitas kita bertemu dengan deaf akan sangat mempengaruhi kemampuan bahasa isyarat.

Senang bisa menjadi bagian dari teman-teman deaf, dan semoga teman-teman deaf juga merasakan hal yang sama. Dengan banyaknya  orang pendengar yang bisa berbahasa isyarat akan menumbuhkan semangat mereka untuk maju dan bahasa isyarat akan lebih membudaya di masyarakat.