Showing posts with label tunarungu. Show all posts
Showing posts with label tunarungu. Show all posts

Friday, April 4, 2014

Ulang Tahun Teater Tuli Yang Pertama


http://www.boyolalipos.com/2013/sudo-ora-sudo-394075

https://id.berita.yahoo.com/foto/kreatifitas-teater-tunarungu-photo-053115401.html

http://chic-id.com/sukses-pementasan-sudo-ora-sudo-oleh-kelompok-teater-anak-tuli/

http://chic-id.com/sukses-pementasan-sudo-ora-sudo-oleh-kelompok-teater-anak-tuli/

http://chic-id.com/sukses-pementasan-sudo-ora-sudo-oleh-kelompok-teater-anak-tuli/

Thursday, April 3, 2014

Eksistensi Diri Tuli

         Mendengar suara alunan musik bisa mengembalikan mood seseorang. Saat sedang gundah, mendengarkan alunan musik klasik sangat menenangkan. Riuh musik yang diputar sepanjang acara pesta menciptakan kenyamanan. Sungguh nikmat dapat mendengarkan berbagai alunan musik. Bagaimana jika Tuhan mengambil kenikmatan tersebut? Menjadi tuli, bagaimana rasanya?

          Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) adalah suatu organisasi yang berkecimpung dalam dunia tuli. Semua anggotanya adalah orang tuli. Ya semua anggotanya adalah tuli, karena ini adalah organisasi tuli yang menentukan ke arah mana mereka akan dibawa. Gerkatin merupakan organisasi tuli resmi yang diakui pemerintah dan memiliki cabang di hampir seluruh provinsi. Dalam strukturnya ada DPP (Dewan Pimpinan Pusat), DPD (Dewan Pimpinan Daerah), serta DPC (Dewan Pimpinan Cabang). Saya berkecimpung dalam DPC Gerkatin Kota Solo, Jawa Tengah.

          Sangat menyenangkan mengikuti berbagai aktivitas yang dilakukan oleh Gerkatin Solo. Jangan pernah membayangkan orang tuli selalu sedih, kesepian, dan depresi. Tak ada yang berbeda dari kita yang disebut “normal”, yang membedakan antara kita dan mereka hanya dalam hal mendengar. Lihatlah tak ada yang berbeda, kita bisa berjalan, memiliki organ tubuh yang lengkap, kaki dan tangan berfungsi dengan baik, semuanya sama. Saat disandingkan antara orang berpendengaran dengan orang tuli dalam keadaan diam tak bicara, tak akan bisa membedakan mana yang tuli dan mana yang berpendengaran. Karena memang tak ada yang berbeda secara fisik.

      Namun lain halnya saat kita sudah mulai berkomunikasi, orang yang berpendengaran menggunakan mulut atau suara dalam berinteraksi. Bagaimana dengan tuli? Mereka mempunyai cara komunikasi, yaitu memakai bahasa isyarat. Sekitar pertengahan tahun 90-an di acara berita TVRI, ada index kecil di pojok bawah dengan gambar orang yang menggerak-gerakkan tangannya, itulah yang dinamakan bahasa isyarat. Teman-teman tuli menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi, baik antartuli maupun dengan orang berpendengaran.

       Awal mula mengikuti kegiatan Gerkatin Solo adalah saat mereka mengadakan acara Sosialisasi Bahasa Isyarat untuk Masyarakat Umum di Car Free Day (CFD) Solo. Acara yang unik dan sukses menarik masyarakat untuk datang ke stand kami yang ada di sana. Antusias masyarakat sangat tinggi. Stand buka dari pukul 06.00 hingga 09.00 tak pernah sepi pengunjung. Pertama kali Gerkatin Solo mengadakan acara itu, pandangan masyarakat terhadap orang tuli masih negatif. Masyarakat menganggap bahwa tuli tidak bisa membaca, menulis, dan melakukan aktivitas layaknya orang normal. Tujuan dari diadakannya acara sosialisasi bahasa isyarat ini adalah agar masyarakat mengetahui siapa tuli sebenarnya, bagaimana cara berkomunikasi tuli, dan apa saja budaya tuli. Karena selama ini masyarakat tidak mendapatkan cukup informasi mengenai tuli, sehingga wajar apabila masyarakat berpandangan negatif terhadap tuli.

          Saya berkecimpung dalam kegiatan Gerkatin Solo tidak sebagai anggota. Karena anggota Gerkatin Solo harus seorang tuli. Jadi saya masuk sebagai  anggota Deaf Volunteering Organization (DVO). Organisasi DVO adalah kumpulan volunteer yang bergerak dalam bidang tuli. Gerkatin Solo dan DVO merupakan sebuah partner, yang bisa dibilang dua kesatuan. Bagi orang-orang berpendengaran yang ingin berkecimpung dalam dunia tuli, bisa menjadi anggota DVO.  Berkecimpung dalam dunia tuli merupakan hal yang sangat menyenangkan. Karena di sini kita bisa belajar bahasa isyarat langsung dengan tuli. Bahasa isyarat menjadi alat komunikasi yang unik karena tidak semua orang bisa menggunakan bahasa isyarat. Hal yang sangat mengasyikkan tentunya.

          Kegiatan Gerkatin Solo sangat banyak. Mulai dari acara rutin tiap dua minggu sekali di CFD Solo yaitu sosialisasi bahasa isyarat. Dan banyak acara-acara lain dengan komunitas maupun pemerintahan. Bagaimana cara teman-teman tuli mencerna acara sedangkan mereka tak bisa mendengar? Nah di sini peran teman-teman DVO, mereka menjadi penerjemah bahasa isyarat bagi teman-teman tuli. Apa yang dibicarakan oleh narasumber diterjemahkan dalam bahasa isyarat oleh penerjemah. Jadi teman-teman tuli tetap mendapatkan informasi dalam acara tersebut. Teman-teman tuli tidak pasif dalam acara, banyak melakukan pertanyaan sama seperti yang lain.

          Solo yang mendeklarasikan diri menjadi Kota Inklusif telah menunjukkan tanda-tanda kemajuan. Inklusi yaitu sebuah kondisi dimana tidak ada diskriminasi di dalam masyarakat. Baik itu disabilitas maupun non disabilitas. Menjadi kota inklusif tidaklah mudah, karena harus mengerti kebutuhan semua masyarakatnya yang masuk dalam kelompok minoritas, seperti Gerkatin Solo, tunanetra, tunadaksa (disabilitas fisik), dan kelompok minoritas yang lain. Di Solo banyak bermunculan sekolah inklusi yaitu sekolah umum yang menerima peserta didik disabilitas sebagai komitmen pemerintah kota untuk mewujudkan kota inklusif.  Sehingga peserta didik disabilitas tidak semuanya harus bersekolah di SLB. Banyak kesempatan yang diberikan oleh pemerintah kota terhadap anak-anak disabilitas untuk mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan kemampuannya.
Stand Bahasa Isyarat di Car Free Day Solo (Photo by: DVO)
Aktivitas Pengunjung di Stand Bahasa Isyarat (Photo by: ian_trihananto)

      Seperti halnya teman-teman tuli yang bersekolah di sekolah inklusi, ingin mendapatkan haknya akan informasi, yaitu disediakannya penerjemah bahasa isyarat dalam pembelajaran di kelas. Hal ini penting bagi mereka karena dengan adanya penerjemah bahasa isyarat, semua informasi yang disampaikan oleh guru dapat diterima dengan utuh tanpa ada yang hilang. Teman-teman tuli juga merupakan warga negara Indonesia yang memiliki hak yang sama akan informasi. Banyak teman-teman tuli yang memiliki potensi setara dengan orang berpendengaran, namun tak ada kesempatan untuk meraih pendidikan tinggi diakrenakan tidak adanya akses informasi di kelas. Sehingga banyak di antara teman-teman tuli mendapatkan nilai di bawah kemampuannya. Hal itu terjadi karena tidak ada akses informasi yang mereka dapatkan di dalam perkuliahan. Saat ini sudah mulai ada universitas inklusi, yaitu universitas yang menerima calon mahasiswa disabilitas serta berkomitmen memenuhi kebutuhan mereka. Dengan adanya universitas inklusi ini, teman-teman tuli bisa mengikuti perkuliahan dengan baik dan bersaing dengan orang berpendengaran tanpa rasa ‘minder’ karena semua informasi yang disampaikan dosen dapat terserap dengan adanya penerjemah bahasa isyarat di kelas.


          Bahkan banyak teman-teman tuli di universitas yang mendapatkan nilai di atas rata-rata. Hal ini bisa mereka dapatkan karena adanya akses informasi, yaitu dengan memakai bahasa isyarat. Sebenarnya banyak tuli yang bisa mendapatkan prestasi tinggi, tapi terkendala akses informasi sehingga potensinya tidak muncul. Apabila kita bandingkan sistem pendidikan tuli di Indonesia dengan Eropa memang masih tertinggal, tapi sekarang Indonesia sudah menuju ke arah sana. Pelan namun pasti, kelak Indonesia akan menjadi negara yang inklusif, baik dalam pendidikan maupun masyarakatnya. Untuk mewujudkan hal tersebut, mari mulai dengan gerakan dari bawah, mengikuti aktivitas Gerkatin Solo dan DVO untuk mensosialisasikan bahasa isyarat dan mengkampanyekan pendidikan inklusi. Entah berapa tahun lagi di Indonesia semua akses informasi akan ada terjemahan bahasa isyaratnya, baik itu berita di TV maupun dalam dunia pendidikan. Semoga ini tidak hanya menjadi mimpi dan angan-angan semata, dengan diiringi doa pasti semuanya akan indah pada waktunya. Salam inklusi!

Tuesday, November 12, 2013

Deaf Volunteering Organization (DVO) Bersama Karya Pelangi


Melihat dunia, melihat indahnya ciptaan Sang Pencipta. Merasakan nikmat segarnya udara yang bebas kita hirup. Mendengar gemiricik sungai dan derunya ombak lautan semakin menambah sempurna kehidupan kita di dunia. Merasakan dengan seluruh indera yang kita miliki belum mampu membuat diri ini bersyukur akan nikmatnya hidup di dunia. Masih merasa tidak sempurna hidupmu?

Mari tengok sahabat kita yang belum tentu mampu merasakan semua itu, tapi semangatnya bahkan ribuan kali lebih besar dari kita. Apakah mereka merasa tak sempurna? Tidak, justru mereka merasakan kesempurnaan karena rasa syukur mereka kepada Tuhan. Melihat semangat kawan-kawan yang selalu bersemangat dalam meraih asa, Karya Pelangi menjadi wadah yang tepat untuk menampung seluruh kisah inspiratif mereka.

Love, Dream, and Disability. Tema yang diangkat oleh Karya Pelangi. Deaf Volunteering Organization (DVO) melihat Karya Pelangi kelak dapat menjadi inspirator serta motivator bagi para pembaca. Karena Karya Pelangi memiliki visi yang sama dengan DVO, sehingga DVO sangat senang dapat mendukung acara ini. Sesuai nama kami, Deaf Volunteering Organization, kami bergerak dalam dunia disabilitas, khususnya tuli. Namun kami adalah volunteer, yaitu orang-orang berpendengaran normal yang berjuang bersama dengan organisasi tuli dalam memperjuangkan hak-hak tuli di Indonesia.

Perjuangan kawan-kawan tuli di Indonesia masih terus dilakukan. Memang sepertinya tuli tidak butuh banyak bantuan layaknya kawan kita yang berkursi roda, maupun tunanetra. Para pemakai kursi roda dapat aksessibilitas yang cukup baik dengan memodifikasi tangga menjadi sedemikian rupa sehingga dapat diakses dengan menggunakan kursi roda tersebut. Namun bagaimana dengan tuli? Mereka tidak mengalami hambatan fisik maupun intelektual. Apa yang sebenarnya mereka butuhkan?

Tuli membutuhkan akses informasi. Bisa kita lihat, cara berkomunikasi mereka adalah  menggunakan bahasa isyarat. Bahasa isyarat adalah hak tuli, tapi tanpa disadari bahwa selama ini kita telah merampas hak mereka. Di sekolah-sekolah mereka dipaksa menggunakan oral dan dilarang memakai bahasa isyarat. Banyak anggapan “miring” bahwa bahasa isyarat akan membuat tuli menjadi bodoh. Sangat ironis memang, yang seharusnya dalam dunia pendidikan tuli akan mendapatkan banyak informasi, tapi tak semua informasi itu terserap karena disampaikan dengan oral.

Dunia pendidikan tak mampu memberikan informasi yang utuh kepada tuli, maka tuli mencari sumber informasi lain, menonton TV salah satu alternatifnya. Seperti yang kita tahu, TV adalah sumber informasi yang cepat dan selalu up to date. Banyak peristiwa yang baru saja terjadi di belahan dunia lain dan dapat ditayangkan di TV dalam waktu yang hampir bersamaan. Televisi sangat menarik bagi kita, karena merupakan media audio-visual. Tapi sekali lagi, tuli tidak mendapatkan haknya akan informasi. Di TV tidak ada penerjemah bahasa isyarat yang dapat menerangkan apa yang ditayangkan kepada kawan-kawan tuli. Sehingga mereka hanya bisa “menonton” TV tanpa mengetahui apa yang diberitakan.

Biasanya anak-anak tuli menonton TV bersama keluarga di rumah, saat menonton acara komedi yang mana seluruh keluarga tertawa tapi anak tuli tidak tahu apa yang lucu dari acara tersebut karena tak mendengar yang dikatakan oleh komedian. Kadang saat kita menunggu panggilan nomer antrean di kantor pemerintahan, yang mana tidak ada informasi visual yang menunjukkan nomer berapa antrean saat itu. Hal ini sangat menyulitkan teman-teman tuli. itu adalah beberapa contoh yang dialami oleh tuli, yaitu keterbatasan akses informasi.

Peran DVO adalah memberikan contoh nyata kepada masyarakat bahwa antara orang dengar dengan tuli bisa berjalan beriringan. Kami memang volunteer, tapi bagi DVO, teman-teman tuli adalah partner, teman, serta sebagai sahabat. Hubungan volunteer dengan tuli begitu dekat dan hangat, karena saat dimana tuli tidak mendapatkan hak-haknyanya, itu adalah luka bagi kami juga.  Kami melakukan banyak kegiatan bersama dengan Gerkatin Solo, antara lain workshop bahasa isyarat, sosialisasi bahasa isyarat, advokasi pemerintah, pembelajaran manajemen organisasi, serta banyak acara-acara yang dilakukan bersama.

Saat ada teman tuli yang mengikuti seminar, dari DVO menjadi interpreter atau penerjemah bahasa isyarat untuk mengisyaratkan apa yang narasumber bicarakan. Karena apabila tidak ada penerjemah dalam acara tersebut, tuli tidak mendapatkan informasi yang utuh dari acara tersebut. Selama tiga tahun ini, DVO bersama Gerkatin Solo terus-menerus mengikuti berbagai acara di luar komunitas tuli. Hal ini bertujuan agar masyarakat mengerti bahwa penerjemah sangat dibutuhkan apabila ada teman-teman tuli yang menghadiri acara tersebut. Kami bersyukur saat ini sudah banyak komunitas di Solo yang semakin paham dengan hak-hak tuli, yaitu penggunaan bahasa isyarat, penerjemah, serta hal-hal yang sifatnya visual. DVO dan Gerkatin Solo berharap, seluruh masyarakat Indonesia bisa memahami hak-hak tuli sebagaimana yang masyarakat Solo tunjukkan kepada tuli. Masyarakat yang menghormati budaya tuli merupakan masyarakat yang inklusif.

Dengan adanya Karya Pelangi ini, harapan kami masyarakat akan lebih menyadari peran serta difabel di masyarakat, karena mereka juga adalah anggota masyarakat. Sudah bukan saatnya kelompok disabilitas ini menjadi kelompok yang termarginalkan. Cerita-cerita dalam Karya Pelangi ini akan menjadi kumpulan cerita inspiratif yang akan menginspirasi orang tua yang memiliki anak dsabilitas, pendidik, masyarakat umum, serta kawan-kawan disabilitas itu sendiri. Mungkin kawan-kawan disabilitas ada yang semangatnya sedang jatuh, harapan kami setelah membaca Karya Pelangi ini dapat membuat mereka menjadi ribuan kali lebih semangat dari hari kemarin.

Kami yakin Karya Pelangi ini akan menjadi sebuah “pelangi” yang sangat indah dan akan muncul banyak “pelangi-pelangi” lain di seluruh pelosok negeri. Mungkin di ujung negeri  banyak sosok pelangi tak berani muncul karena belum ada “hujan” yang turun, harapannya Karya Pelangi ini dapat menjadi “hujan” bagi mereka, sehingga sinar pelangi mereka dapat menerangi sosok-sosok “calon pelangi” yang lain. Bagi para pejuang volunteer dan siapa saja yang ingin menyumbangkan cerita “pelangi”-nya, mari tuliskan ceritamu ke sini. Bagikan kisah inspiratif anda, satu cerita dapat memunculkan satu pelangi. Mari berbagi di sini dan buat semua orang tahu bahwa disabilitas dapat menembus batas.

Deaf Volunteering Organization (DVO) selalu berjuang bersama tuli untuk memunculkan pelangi-pelangi yang masih tersembunyi. Mari bersama-sama mencari sang pelangi! Salam inklusif.

Tuesday, March 5, 2013

Apa Ceritamu Kawan?


Ini ceritaku, apa ceritamu?

          Kalimat yang sering kita dengar di TV. Cukup familiar dan sederhana. Tapi dibalik kalimat itu mengandung berbagai makna. Bagaimana tidak, tiap orang punya masalah masing-masing, punya hidup, punya keinginan, dan memiliki mimpi yang berbeda-beda. Ingin menyimpan ceritamu sendiri? Atau berbagi ceritamu bersama sahabat?

          Pastinya banyak kejadian hari ini yang bisa diceritakan. Mungkin bagi kita itu adalah hal biasa, namun bukan untuk orang lain. Pengalamanku mengajar di sekolah menjadi hal yang basa bagiku, tapi akan sangat menarik didengarkan oleh calon mahasiswa yang akan mengambil jurusan keguruan. Dengan mendengar atau membaca cerita pengalaman orang lain dapat membuat kita memiliki gambaran seperti apa jika kelak kita di posisi tersebut.

          Banyaknya buku-buku success story yang laris dibeli di toko buku membuktikan bahwa cerita yang sebenarnya biasa bagi kita akan menjadi menarik bila diketahui orang lain. Kenapa menarik? Karena kita memiliki jalan hidup masing-masing. Terkadang aku sendiri tertarik membaca kisah kehidupan masyarakat di ujung negeri yang penuh dengan keterbatasan daripada membaca berita politik negeri yang sering menjadi headline surat kabar.

          Hal-hal yang nyeleneh dan yang jarang terekspos oleh masyarakat umum bisa menjadi suatu cerita menarik. Apakah masyarakat tahu mengenai perjuangan teman-teman difabel meminta haknya di fasilitas-fasilitas umum? Apakah masyarakat tahu bahwa sebenarnya masih banyak hak-hak difabel yang belum terpenuhi? Apakah masyarakat tahu bahwa dari dulu bahkan sampai saat ini teman-teman difabel masih berjuang dalam advokasi, pekerjaan, bahkan sebagai warga negara? Aku pikir hanya difabel, pemerhati difabel, dan orang yang berkecimpung di dunia difabel yang mengetahui semua itu.

          Setelah melihat pertanyaan di atas, masihkah kita menyimpan cerita itu sendiri? Siapa yang memberi informasi mengenai disabilitas kepada masyarakat kalau bukan kita -difabel, pemerhati difabel-. Mulai sekarang biarkanlah orang tahu mengenai kita, kehidupan teman-teman difabel yang sesungguhnya sangat luar biasa. Dunia kita bukanlah dunia asing untuk “dikonsumsi” publik. Ceritakan bahwa banyak teman-teman difabel banyak yang sukses, berprestasi, dan mandiri.

          Ayo teman-teman tulis cerita pengalaman, banyak orang ingin tahu pengalaman kalian. Biar seluruh dunia tahu bahwa kita juga BISA. keTERBATASan tak membuat kita menjadi TERBATAS.

           
Special dedicated to my friends in GERKATIN SOLO
Love you all : )
Cara Bercerita Deaf di Depan Kamera dengan Menggunakan Bahasa Isyarat 

Monday, October 15, 2012

Bahasa Isyarat kok Unik????



Bahasa isyarat…. Dulunya tak pernah terpikirkan akan bisa bahasa isyarat dan memakainya hampir tiap hari. Dulu pernah belajar bahasa isyarat pada tahun 2009 di UNY. Waktu itu ada workshop bahasa isyarat yang diselenggarakan oleh HIMA (Himpunan Mahasiswa) PLB FIP UNY selama 2 hari. Sehari adalah amteri dan hari berikutnya adalah praktik bahasa isyarat. Ya seru bisa bahasa isyarat waktu itu, karena merasakan hal-hal baru yang tak pernah terbayangkan.
            
Setelah pelatihan itu, bahasa isyarat tak pernah lagi dipakai. Seperti ilmu-ilmu yang lain apabila tak pernah digunakan pasti akan hilang, ya seperti bahasa isyarat itu. Waktu itu aku benar-benar sudah tak hafal lagi bahasa  isyarat, bahkan abjad!! Ya eman-eman banget.. Nah pada tahun 2011 kalau tidak salah bulan juni akhir aku bertemu mas Jayeng (mantan ketua Gerkatin Solo) dan Agus (Pengurus Gerkatin Solo) di kampus untuk mengajak ke acara Gerkatin Solo, katanya acara sosialisasi bahasa isyarat.
            
Terakhir belajar bahasa isyarat tahun 2009 dan ketemu mas Jayeng tahun 2011. Hmmmm bisa dibayangkan aku belepotan dan gemeteran ngobrol-ngobrol dengan dia. Aku  tak begitu maksud apa yang dia omongkan dan juga sebaliknya. Yang ada di benakku “iiish memalukan bener nih aku anak PLB ga bisa komunikasi sama mereka”. Apalagi waktu itu mas Jayeng tanya nama-nama beberapa temanku untuk diajak ke acaranya. Ngomong “Puji” berubah menjadi “Budi” di kertas mas Jayeng. hadeeeeh -____-“

Selama tahun pertengahan 2011 hingga sekarang sudah mengalami beberapa pengalaman berbahasa isyarat. Memang bahasa isyarat berbeda dengan bahasa kita waktu ngobrol dengan berbicara. Adakalanya dimana letak “Subjek” ditempatkan di “Predikat” dalam struktur SPOK Bahasa Indonesia. Namun dalam bahasa isyarat hal itu adalah wajar dan membuat deaf mengerti. “Setelah acara ini selesai kita pergi ke Gerkatin” à ini adalah pemakaian bahasa kita saat bicara. Namun dalam bahasa isyarat akan menjadi seperti ini “Acara ini habis, kita (pergi) Gerkatin”. Kata “pergi” masuk dalam kurung karena perbedaan yang masing-masing deaf lakukan saat ngobrol.

Bahasa isyarat menggunakan ekspresi untuk menunjukkan bahwa sesuatu itu sangat sesuatu. “Cewek itu cantik bangeeeet” à berbicara dengan orang pendengar, namun jika dengan isyarat akan menjadi “Cewek itu cantik”. Ya memang terlihat biasa jika ditulis, tapi akan terlihat berbeda jika kita bertemu langsung dengan deaf saat ngobrol. Karena ekspresi “bangeeeet” akan ditampilkan dengan mimik muka yang menunjukkan bahwa cewek itu sangat cantik. Apabila deaf bercerita sedih, maka ekspresi mereka pun akan ikut sedih. Naaah ekspresi adalah hal yang masih sulit aku lakukan, emang dasarnya tak punya ekspresi kali ya -___-“. Masih dalam proses pembiasaan ekspresi saat berbahasa isyarat.

Selain ekspresi, kecepatan deaf berisyarat juga ditentukan oleh dengan siapa mereka berbicara. Apabila mereka berbicara dengan orang dengar yang sudah bisa berisyarat maka mereka cenderung akan lebih cepat pergerakan tangannya. Tapi apabila dengan orang pendengar yang belum bisa atau yang sedang belajar bahasa isyarat maka kecepatan bahasa isyarat mereka akan dikurangi dan disertai dengan suara. Hal ini terlihat pada semua deaf yang pernah aku temui. Saat pertama bertemu dan aku lebih menggunakan oral saat berbincang dengannya, maka deaf itu berbahasa isyarat dengan pelan disertai suara. Mungkin karena dia pikir orang yang diajak berbincang belum bisa bahasa isyarat dan khawatir apabila tak mengerti apa yang ingin disampaikan. Setelah berbincang lama, dia pasti akan menilai sejauh mana kemampuan bahasa isyarat orang dengar tersebut. Menurut pengalamanku selama ini, kira-kira mereka butuh waktu 5-10 menit untuk menilai kemampuan dan menyesuaikan kecepatan bahasa isyaratnya. Contohnya saat aku berada di Sukoharjo dan pertama kali berkenalan dengan deaf, maka deaf itu dipastikan akan menggunakan oral dan sedikit isyarat saat mengobrol. Setelah si pendengar ini mampu menanggapi apa yang dia omongkan secara otomatis dia akan meningkatkan kecepatan isyaratnya. Dan jika kita paham dan menanggapi apa yang dia bicarakan, dipastikan dia akan meningkatkan kecepatan behasa isyaratnya juga disertai dengan “struktur bahasa isyarat” yang sesungguhnya. Struktur bahasa isyarat yang aku maksudkan adalah pola isyarat yang sebenarnya dan bukan menurut kaidah SPOK.

Orang yang berbahasa isyarat juga seperti memperagakan dua karakter yang berbeda dalam satu cerita. Contohnya ada deaf yang cerita akan membeli HP, maka dia benar-benar memperagakan apa yang diomongkannya saat itu dan memperagakan apa yang diomongkan oleh pedagang HP itu. Dan disertai oleh ekspresinya. Jadi seakan-akan kita melihat dua orang yang bercerita, padahal hanya satu orang itu. Hal ini tidak dilakukan saat kita berbicara. Ini merupakan keunikan bahasa isyarat.

Pertama kali menjadi interpret adalah suatu hal yang tak terlupakan. Karena malam setelah acara kepala menjadi sangat panas dan terasa pusing. Aku menyebutnya Interpret Syndrome. Saat tidur kadang tanpa sadar tangan melakukan gerakan-gerakan isyarat. Benar-benar terbawa sampai mimpi. Bahasa isyarat membutuhkan koordinasi otak dan motorik untuk mensinkronkannya menjadi gerakan-gerakan bahasa isyarat.

Dan satu lagi, kadang sebelum menginterpretkan aku butuh pemanasan. Karena di beberapa kali saat-saat pertama memulai interpret kadang-kadang bahasa isyarat yang ada di otak tidak sinkron dengan apa yang aku hasilkan dalam bentuk gerakan isyarat. Perasaan gugup juga mempengaruhi interpret. Seperti dulu yang mas Ponk bilang ke aku “Tenangno sek, ra sah gugup, tarik napas dalam-dalam”. Jadi kesimpulan dari semua ini adalah otak dan motorik harus sinkron, perasaan tenang, banyaknya penguasaan kata-kata isyarat serta intensitas kita bertemu dengan deaf akan sangat mempengaruhi kemampuan bahasa isyarat.

Senang bisa menjadi bagian dari teman-teman deaf, dan semoga teman-teman deaf juga merasakan hal yang sama. Dengan banyaknya  orang pendengar yang bisa berbahasa isyarat akan menumbuhkan semangat mereka untuk maju dan bahasa isyarat akan lebih membudaya di masyarakat.

Saturday, July 21, 2012

Dari Mereka Aku Belajar Indahnya Hidup

            Kata “indah” bagi tiap orang punya persepsi masing-masing. Memang “indah” tak bisa diungkapkan, karena indah itu abstrak. Seperti halnya makanan, enak bagiku belum tentu enak bagimu.

            Di dunia ini, sering kali kita mendengar kicauan suara burung yang indah maupun suara alunan instrumen musik. Musik yang bagus bagaimana suaranya? Suara piano seperti apa? Suara gitar seperti apa?

           Baiklah untuk masalah suara itu hanya bagi kita yang memiliki pendengaran normal yang berarti tidak mengalami gangguan pendengaran. Lain halnya dengan teman-teman kita yang deaf. Mereka hanya mendengar sedikit suara bahkan tidak mendengar sama sekali. Bagaimana mereka menjawab pertanyaan di atas kalau mereka tak pernah mendengar suara piano seperti apa.

            Deaf “mendengar” dan melihat melalui visualnya. Visual mereka sangat tajam, karena melalui indera inilah mereka berkomunikasi dengan dunia luar. Dengan keterbatasan yang mereka miliki ini, tak membuat mereka mengurung diri dalam kesendiriannya. Berkumpul bersama teman-teman bisa mengusir kejenuhan.
           
           Gerkatin Solo, inilah nama tempat di mana mereka dan aku berbagi canda, cerita, suka, dan duka (tapi hampir ga ada duka kok). Aku bersyukur bisa bertemu teman-teman deaf di sini. Aku menjadi mengerti bagaimana karakteristik mereka, kebutuhan mereka, dan juga cara berkomunikasi mereka. Secara fisik mereka tidak ada yang berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Mereka bisa jalan, bisa lompat, bisa lari, naik motor, naik mobil, dan benar-benar tak ada yang bisa membedakan mereka dengan orang normal.

       Namun saat mulai berkomunikasi inilah kita tahu bahwa mereka adalah deaf. Yang memiliki keterbatasan dalam pendengaran. Tapi bagi masyarakat yang belum mengerti tunarungu seperti apa kadang-kadang bayangan mereka tentang deaf itu bodoh dan tak mampu berbuat apa-apa. Yaaa wajar saja… Mungkin karena ada kata “tuna-“ yang membuat pandangan masyarakat menjadi miring terhadap teman-teman deaf. 

          DEAF TIDAK CACAT. Mereka hanya memiliki keterbatasan pendengaran. Mereka lebih suka diutarakan dalam “tuli” atau “deaf” (bahasa Inggris), karena tidak membuat mereka merasa “cacat”. Oh iya, jika ada yang beranggapan bahwa deaf itu bodoh, orang itu benar-benar belum mengerti hakikat diciptakannya manusia oleh Tuhan pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Deaf memiliki kemampuan otak yang SAMA dengan orang normal, hanya yang berbeda adalah CARA MENGISInya. Kita yang normal bisa mendengar dan melihat, sehingga semua informasi bisa terserap dalam otak. 

            Teman-teman deaf memiiki cara yang berbeda dalam pembelajaran, karena mereka memanfaatkan visualnya. Baik itu membaca tulisan maupun membaca gerak bibir sang guru. Jika kita menggunakan cara yang tepat dalam memberikan informasi bagi teman-teman deaf, pasti mereka juga bisa seperti orang normal yang punya banyak informasi. Mungkin sebagian dari kita tidak sabar menghadapi mereka. Tahukah kamu sebenarnya kita telah melakukan diskriminasi terhadap mereka. Mereka berhak mendapatkan informasi meskipun terbatas dalam mendengar. 

         Dari hal-hal inilah aku belajar bahwa Tuhan menciptakan kita untuk saling melengkapi. Memiliki pendengaran dan penglihatan normal jangan membuat kita lupa dengan teman kita yang memiliki keterbatasan itu. Tapi jangan pernah berpikir untuk menaruh rasa iba pada mereka, bukan rasa iba yang mereka inginkan, tapi PERHATIAN.

            Hidup itu tak mesti mendengar, karena kami melakukan keramaian meski dalam kesunyian. Setelah masuk ke dalam dunia deaf, aku menjadi mengerti bahwa tak ada yang benar-benar sunyi. Ingatlah kawan, Keterbatasan Tak Membuat Kita Menjadi Terbatas. Ayo bersama-sama menembus BATAS itu.

            Terima kasih kawan-kawan deaf yang telah mengajariku indahnya hidup ini.