Showing posts with label volunteer. Show all posts
Showing posts with label volunteer. Show all posts

Thursday, April 3, 2014

Eksistensi Diri Tuli

         Mendengar suara alunan musik bisa mengembalikan mood seseorang. Saat sedang gundah, mendengarkan alunan musik klasik sangat menenangkan. Riuh musik yang diputar sepanjang acara pesta menciptakan kenyamanan. Sungguh nikmat dapat mendengarkan berbagai alunan musik. Bagaimana jika Tuhan mengambil kenikmatan tersebut? Menjadi tuli, bagaimana rasanya?

          Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) adalah suatu organisasi yang berkecimpung dalam dunia tuli. Semua anggotanya adalah orang tuli. Ya semua anggotanya adalah tuli, karena ini adalah organisasi tuli yang menentukan ke arah mana mereka akan dibawa. Gerkatin merupakan organisasi tuli resmi yang diakui pemerintah dan memiliki cabang di hampir seluruh provinsi. Dalam strukturnya ada DPP (Dewan Pimpinan Pusat), DPD (Dewan Pimpinan Daerah), serta DPC (Dewan Pimpinan Cabang). Saya berkecimpung dalam DPC Gerkatin Kota Solo, Jawa Tengah.

          Sangat menyenangkan mengikuti berbagai aktivitas yang dilakukan oleh Gerkatin Solo. Jangan pernah membayangkan orang tuli selalu sedih, kesepian, dan depresi. Tak ada yang berbeda dari kita yang disebut “normal”, yang membedakan antara kita dan mereka hanya dalam hal mendengar. Lihatlah tak ada yang berbeda, kita bisa berjalan, memiliki organ tubuh yang lengkap, kaki dan tangan berfungsi dengan baik, semuanya sama. Saat disandingkan antara orang berpendengaran dengan orang tuli dalam keadaan diam tak bicara, tak akan bisa membedakan mana yang tuli dan mana yang berpendengaran. Karena memang tak ada yang berbeda secara fisik.

      Namun lain halnya saat kita sudah mulai berkomunikasi, orang yang berpendengaran menggunakan mulut atau suara dalam berinteraksi. Bagaimana dengan tuli? Mereka mempunyai cara komunikasi, yaitu memakai bahasa isyarat. Sekitar pertengahan tahun 90-an di acara berita TVRI, ada index kecil di pojok bawah dengan gambar orang yang menggerak-gerakkan tangannya, itulah yang dinamakan bahasa isyarat. Teman-teman tuli menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi, baik antartuli maupun dengan orang berpendengaran.

       Awal mula mengikuti kegiatan Gerkatin Solo adalah saat mereka mengadakan acara Sosialisasi Bahasa Isyarat untuk Masyarakat Umum di Car Free Day (CFD) Solo. Acara yang unik dan sukses menarik masyarakat untuk datang ke stand kami yang ada di sana. Antusias masyarakat sangat tinggi. Stand buka dari pukul 06.00 hingga 09.00 tak pernah sepi pengunjung. Pertama kali Gerkatin Solo mengadakan acara itu, pandangan masyarakat terhadap orang tuli masih negatif. Masyarakat menganggap bahwa tuli tidak bisa membaca, menulis, dan melakukan aktivitas layaknya orang normal. Tujuan dari diadakannya acara sosialisasi bahasa isyarat ini adalah agar masyarakat mengetahui siapa tuli sebenarnya, bagaimana cara berkomunikasi tuli, dan apa saja budaya tuli. Karena selama ini masyarakat tidak mendapatkan cukup informasi mengenai tuli, sehingga wajar apabila masyarakat berpandangan negatif terhadap tuli.

          Saya berkecimpung dalam kegiatan Gerkatin Solo tidak sebagai anggota. Karena anggota Gerkatin Solo harus seorang tuli. Jadi saya masuk sebagai  anggota Deaf Volunteering Organization (DVO). Organisasi DVO adalah kumpulan volunteer yang bergerak dalam bidang tuli. Gerkatin Solo dan DVO merupakan sebuah partner, yang bisa dibilang dua kesatuan. Bagi orang-orang berpendengaran yang ingin berkecimpung dalam dunia tuli, bisa menjadi anggota DVO.  Berkecimpung dalam dunia tuli merupakan hal yang sangat menyenangkan. Karena di sini kita bisa belajar bahasa isyarat langsung dengan tuli. Bahasa isyarat menjadi alat komunikasi yang unik karena tidak semua orang bisa menggunakan bahasa isyarat. Hal yang sangat mengasyikkan tentunya.

          Kegiatan Gerkatin Solo sangat banyak. Mulai dari acara rutin tiap dua minggu sekali di CFD Solo yaitu sosialisasi bahasa isyarat. Dan banyak acara-acara lain dengan komunitas maupun pemerintahan. Bagaimana cara teman-teman tuli mencerna acara sedangkan mereka tak bisa mendengar? Nah di sini peran teman-teman DVO, mereka menjadi penerjemah bahasa isyarat bagi teman-teman tuli. Apa yang dibicarakan oleh narasumber diterjemahkan dalam bahasa isyarat oleh penerjemah. Jadi teman-teman tuli tetap mendapatkan informasi dalam acara tersebut. Teman-teman tuli tidak pasif dalam acara, banyak melakukan pertanyaan sama seperti yang lain.

          Solo yang mendeklarasikan diri menjadi Kota Inklusif telah menunjukkan tanda-tanda kemajuan. Inklusi yaitu sebuah kondisi dimana tidak ada diskriminasi di dalam masyarakat. Baik itu disabilitas maupun non disabilitas. Menjadi kota inklusif tidaklah mudah, karena harus mengerti kebutuhan semua masyarakatnya yang masuk dalam kelompok minoritas, seperti Gerkatin Solo, tunanetra, tunadaksa (disabilitas fisik), dan kelompok minoritas yang lain. Di Solo banyak bermunculan sekolah inklusi yaitu sekolah umum yang menerima peserta didik disabilitas sebagai komitmen pemerintah kota untuk mewujudkan kota inklusif.  Sehingga peserta didik disabilitas tidak semuanya harus bersekolah di SLB. Banyak kesempatan yang diberikan oleh pemerintah kota terhadap anak-anak disabilitas untuk mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan kemampuannya.
Stand Bahasa Isyarat di Car Free Day Solo (Photo by: DVO)
Aktivitas Pengunjung di Stand Bahasa Isyarat (Photo by: ian_trihananto)

      Seperti halnya teman-teman tuli yang bersekolah di sekolah inklusi, ingin mendapatkan haknya akan informasi, yaitu disediakannya penerjemah bahasa isyarat dalam pembelajaran di kelas. Hal ini penting bagi mereka karena dengan adanya penerjemah bahasa isyarat, semua informasi yang disampaikan oleh guru dapat diterima dengan utuh tanpa ada yang hilang. Teman-teman tuli juga merupakan warga negara Indonesia yang memiliki hak yang sama akan informasi. Banyak teman-teman tuli yang memiliki potensi setara dengan orang berpendengaran, namun tak ada kesempatan untuk meraih pendidikan tinggi diakrenakan tidak adanya akses informasi di kelas. Sehingga banyak di antara teman-teman tuli mendapatkan nilai di bawah kemampuannya. Hal itu terjadi karena tidak ada akses informasi yang mereka dapatkan di dalam perkuliahan. Saat ini sudah mulai ada universitas inklusi, yaitu universitas yang menerima calon mahasiswa disabilitas serta berkomitmen memenuhi kebutuhan mereka. Dengan adanya universitas inklusi ini, teman-teman tuli bisa mengikuti perkuliahan dengan baik dan bersaing dengan orang berpendengaran tanpa rasa ‘minder’ karena semua informasi yang disampaikan dosen dapat terserap dengan adanya penerjemah bahasa isyarat di kelas.


          Bahkan banyak teman-teman tuli di universitas yang mendapatkan nilai di atas rata-rata. Hal ini bisa mereka dapatkan karena adanya akses informasi, yaitu dengan memakai bahasa isyarat. Sebenarnya banyak tuli yang bisa mendapatkan prestasi tinggi, tapi terkendala akses informasi sehingga potensinya tidak muncul. Apabila kita bandingkan sistem pendidikan tuli di Indonesia dengan Eropa memang masih tertinggal, tapi sekarang Indonesia sudah menuju ke arah sana. Pelan namun pasti, kelak Indonesia akan menjadi negara yang inklusif, baik dalam pendidikan maupun masyarakatnya. Untuk mewujudkan hal tersebut, mari mulai dengan gerakan dari bawah, mengikuti aktivitas Gerkatin Solo dan DVO untuk mensosialisasikan bahasa isyarat dan mengkampanyekan pendidikan inklusi. Entah berapa tahun lagi di Indonesia semua akses informasi akan ada terjemahan bahasa isyaratnya, baik itu berita di TV maupun dalam dunia pendidikan. Semoga ini tidak hanya menjadi mimpi dan angan-angan semata, dengan diiringi doa pasti semuanya akan indah pada waktunya. Salam inklusi!

Thursday, December 12, 2013

Menjadi Besar Melalui Teater Tuli


Masih jelas teringat penampilan teater tuli bulan April 2013 yang lalu. Saat itu repons masyarakat yang sangat luar biasa ingin menyaksikan penampilan kawan-kawan tuli tampil dalam sebuah teater. Tiket presale yang disebar sebelum hari H, ternyata sudah habis terjual. Hanya tersisa tiket on the spot yang jumlahnya terbatas.

Yang tidak bisa masuk karena kehabisan tiket selalu menanyakan kapan teater tuli akan dipentaskan lagi. Kami selalu bilang bahwa kami belum tahu kapan pastinya. Momen yang sangat luar biasa tentunya jika kami dapat menyuguhkan teater yang sama besarnya seperti ini. Menggelar teater yang terdiri dari bermacam-macam organisasi tentunya tidak mudah. Menyatukan jadwal adalah hal yang paling berat. Tentunya setiap organisasi memiliki program kerja masing-masing.

Namun, itu semua tak mustahil dilakukan asal ada komitmen untuk merealisasikannya. Dan di Solo baru pertama kali diadakan teater tuli yang berkolaborasi dengan berbagai macam organisasi. Adalah Deaf Volunteering Organization (DVO) sebagai penggagas dan tuan rumah acara teater ini. Berkolaborasi dengan Gerkatin (Gerakan Untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia) Solo, BKKT UNS (Badan Koordinasi Kesenian Tradisional Universitas Sebelas Maret) dan Kelompok Teater Peron Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan UNS. Antusiasme yang sangat luar biasa, baik dari orang tua, pendidikan, organisasi seni, maupun dari masyarakat umum mengenai teater yang kami pentaskan.

Cerita teater yang kami angkat adalah mengenai kehidupan nyata anak-anak tuli dan keluarga yang memiliki anak tuli. Anak-anak tuli yang tidak diperbolehkan keluar rumah karena merupakan aib keluarga yang harus ditutupi, tuli tidak bisa melakukan apa-apa sehingga percuma jika bersekolah atau sekedar bersosialisasi dengan tetangga. Hal tersebut masih sering dijumpai di desa-desa bahkan di perkotaan. Dengan pementasan teater ini, kami sekaligus mengedukasi kepada orang tua dan kepada pendidik bahwa tuli tidaklah yang seperti dibayangkan. Tuli dapat melakukan semuanya, kecuali mendengar. Bahasa isyarat tidak membodohkan tuli, justru pengetahuan luas jika informasi disajikan dalam bentuk bahasa isyarat.

Pahamilah bahwa bahasa isyarat adalah hak orang tuli. Hak yang sudah dijamin oleh PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) bahwa semua orang/negara harus menghormati dan mengakui bahasa isyarat sebagai bahasa yang setara dengan bahasa nasional negaranya. Tapi melihat realita yang ada, justru guru melarang siswa tuli menggunakan bahasa isyarat. Padahal bahasa isyarat adalah bahasa ibu orang-orang tuli. Bisa diibaratkan kita merampas tongkat orang buta yang berjalan sendirian. Menyakitkan bukan?

Bahasa isyarat sangat penting bagi tuli. Terutama untuk mendapatkan informasi. Betapa susahnya membaca gerakan bibir untuk menebak apa yang dikatakan seseorang. Apalagi jika berada dalam acara seminar yang pembicaranya berada jauh dari penonton. Dipastikan tak akan bisa membaca gerak bibirnya. Microphone yang menutupi mulutnya saat berbicara, dan tuli tak bisa membaca gerakan bibirnya. Maka dari itu butuh bahasa isyarat yang menginterpretasikan apa yang diucapkan oleh sang pembicara. Dengan begitu, semua informasi akan terserap dengan baik.

Anak-anak tuli memiliki rasa percaya diri yang rendah saat menggunakan bahasa isyarat, karena sejak awal di otaknya sudah tertanam bahwa bahasa isyarat itu “buruk”. Jadi mereka banyak yang merasa dilema, antara nyaman dan malu. Mereka nyaman menggunakan bahasa isyarat tapi malu bila dilihat orang saat berbahasa isyarat. Atau bukan karena malu, tapi takut jika ketahuan oleh guru saat berisyarat, akan dihukum. Begitu banyak hal yang terjadi dalam kehidupan nyata yang tak dimengerti oleh orang berpendengaran normal. Bahkan sebagian pendidik yang belum tahu atau tidak mau tahu kebutuhan anak-anak tuli.

Advokasi yang telah dilakukan oleh kawan-kawan tuli seakan hanya angin lalu. Tak ada bekasnya. Maka dari itu, kami mencari cara lain untuk mengadvokasi pada pemerintah, orang tua, masyarakat, dan untuk tulinya sendiri. Ya, dengan seni. Seni dapat menghubungkan dan menyampaikan pesan dengan baik. Dan dengan seni, kita dapat menyampaikan pesan dengan sangat jelas sekaligus menggambarkan realita yang sebenarnya dibandingkan memakai proposal atau bentuk-bentuk tulisan yang lain.

Bulan November yang lalu, Gerkatin Solo diundang untuk tampil dalam acara Festival Teater Pelajar se-Jawa Tengah. Suatu hal yang sangat luar biasa. Karena Gerkatin Solo baru pentas teater pertama kali bulan April yang lalu tapi sudah mendapat kehormatan menjadi bintang tamu dalam acara besar ini. Ternyata pentas bulan April yang lalu menyedot perhatian dari berbagai pihak.

Saya yang sekarang berdomisili di Bekasi, menyempatkan menonton pentas Gerkatin Solo. Ada rasa yang sangat aku rindukan, yaitu teman-teman tuli Solo yang penuh semangat dan keceriaan. Sungguh rasa rindu yang sudah tertahan lama, terobati sudah. Melihat mereka latihan, membuat properti, ah aku merindukan semuanya! Di Solo saya tak hanya bertemu teman-teman tuli, tapi dengan kawan-kawan volunteer. Ya, kawan-kawan DVO yang punya semangat juang tinggi.

Kepanitiaan teater kali ini adalah sepenuhnya tuli yang menjadi ujung tombaknya. Dalam mencari dana sponsor, pembuatan proposal, bahkan dalam hal pemain semuanya adalah teman-teman tuli. Jadi peran volunteer hanya sebagai jembatan penghubung serta membantu hal-hal yang dirasa belum mereka pahami. Hal ini sudah terbiasa kami lakukan, sehingga teman-teman tuli dapat belajar bagaimana proses membuat acara. Bagaimana rasanya saat suatu acara itu sukses terselenggara dengan kerja keras mereka sendiri. Pasti ada suatu kebanggaan tersendiri memiliki kesempatan membuat suatu acara, banyak pengalaman yang didapat, memahami akan adanya perbedaan pendapat dan berbagai karakter personal di dalam kerja tim tersebut.

Pementasan di Festival Pelajar November lalu, Gerkatin Solo menampilkan teater “tanpa dialog”. Menggunakan bahasa isyarat sepanjang pementasan. Apakah tak ada yang mengerti maksudnya? Tidak. Bahkan penonton begitu antusias menyaksikan pementasan tersebut. Karena rasa penasaran ingin tahu bagaimana pementasan tuli. Teman-teman tuli tak berdialog menggunakan suara, mereka berdialog dengan sesama pemain maupun penonton menggunakan bahasa isyarat.

Teman-teman tuli memiliki ekspresi wajah yang alami, sehingga pesan yang ingin disampaikan benar-benar sampai kepada penonton. Ada gelak tawa sepanjang pementasan teater ini. Penonton melihat gerakan dan ekspresi wajah pemain yang menampilkan sisi parodi. Tiap segmen riuh tepuk tangan penonton sangat meriah, bahkan lebih meriah dari peserta yang tampil sebelum-sebelumnya.

Saya yang menyaksikan pun begitu terhibur melihat penampilan teman-teman tuli. Tiap pergantian segmen, lampu panggung dimatikan, sehingga rasa penasaran ingin segera melihat penampilan mereka yang lain. Dan tiap segmen pasti membuat kejutan-kejutan yang menghibur penonton. Pantas jika penampilan mereka sangat dinantikan.

Teater yang berjudul “Dongempi” disutradarai oleh Sandhi. Mahasiswa Pendidikan Luar Biasa (PLB) UNS yang mencintai bidang seni, teater khususnya. Dan sekali lagi, pementasan Gerkatin Solo berhasil mendatangkan teman-teman tuli dari daerah lain yang jauh-jauh datang untuk menyaksikan pementasan ini. Ada dari Jogja, Salatiga, Semarang, Jawa Timur, dan beberapa daerah lain. Mereka merasa rindu ingin melihat teman-teman tuli pentas teater. Seperti yang kita tahu, kesempatan untuk tuli tampil sangatlah sedikit, tak banyak media yang menampilkan sisi “lain” dari tuli. Media lebih banyak melihat sisi dimana disabilitas adalah orang yang harus dikasihani, membutuhkan pertolongan, dan berbagai image “negatif” lainnya.

Dengan pertunjukan teater ini, kami yakin bahwa ini adalah cara yang ampuh untuk mengedukasi masyarakat mengenai tuli serta meluruskan pandangan masyarakat mengenai tuli. Dan yang terpenting pemerintah dapat memahami kebutuhan tuli dalam bidang informasi dan pendidikan. Jangan lagi mendiskriminasi bahasa isyarat, ini bahasa ibu tuli. Bahasa yang seharusnya dapat berkembang setara dengan bahasa Indonesia. Berilah tuli kesempatan untuk menentukan kebijakan, karena kamilah yang mengetahui kebutuhan kami yang sebenarnya. Bukan orang-orang berpendengaran normal yang merasa paling tahu mengenai tuli, tapi tidak pernah berinteraksi lebih jauh dengan tuli.

Tak ada yang berbeda dari tuli, semua hal dapat mereka lakukan, kecuali mendengar. Mereka dapat mendengar, bukan telinga, tapi dengan mata.

Aku bisa
Kamu Bisa
Kita Sama

Mengumpulkan Semangat
(foto: @ian_trihananto)

Adegan teater
(foto: @ian_trihananto)

Adegan Teater

Adegan Teater

Tuesday, November 19, 2013

Perpisahan Sesaat

Setiap keputusan pasti ada risiko yang harus diambil. Pasti ada sisi positif dan negatifnya. Keputusan adalah pilihan. Pilihan itu yang harus aku pilih.

Setelah bekerja di sebuah SLB selama satu tahun lebih, banyak pengalaman yang aku dapatkan di sana. Sebagai fresh graduate tentunya yang dicari adalah pengalaman sebanyak-banyaknya. Di SLB mendapatkan banyak sekali pelajaran dalam hal pendidikan, kehidupan, relasi, dan sistem sekolah yang dulu tidak ada dalam mata kuliah.

Memang sedih berpisah dengan SLB dan murid-muridku di sana. Namun yang lebih sedih adalah berpisah dengan kawan-kawan di Gerkatin Solo dan Deaf Volunteering Organization (DVO). Mereka sudah menjadi keluargaku selama di Solo. Banyak hal yang aku dapatkan dari sana. Keluh, lelah, gesekan, begadang, senang, bangga, dan semua perasaan bahagia terkumpul menjadi satu di sana.

Ada pertemuan pasti ada perpisahan. Kalimat yang mudah diucapkan saat memberi semangat kepada kawan, tapi entah kenapa begitu sulit dijalani sendiri. Kalau ada pertemuan janganlah ada perpisahan, inginnya seperti itu. Egois sekali memang. Tapi sekali lagi, ini adalah pilihan. Dan setelah berpikir berbulan-bulan akhirnya kuputuskan untuk pindah dari Solo dan meninggalkan kawan-kawan di sini. Meninggalkan bukan dalam artian lepas dari mereka sepenuhnya. Hanya berpisah jarak, namun masih tetap berada dalam dunia tuli.

Ya itu kalimat penghiburku, “hanya berpisah jarak, tapi tetap dalam satu dunia, tuli.” Begitu berat meninggalkan mereka yang telah membentuk pemikiranku bahwa kita harus sadar di suatu kelompok besar, ada sebuah kelompok minoritas yang memiliki hak-hak yang setara dengan kelompok mayoritas.

Kepindahanku dari Solo adalah ke Bekasi. Membangun sebuah sekolah baru dengan kurikulum yang berbeda dengan di Indonesia. Melihat banyaknya tuli yang belum mengenal jati dirinya sebagai tuli, banyak yang belum sadar bahasa isyarat adalah hak mereka, dan banyak kemampuan membaca tuli dewasa yang sama dengan kemampuan membaca anak SD berpendengaran normal. Bertahun-tahun bersekolah kenapa kemampuan membaca dan menulis tuli masih rendah? Apa yang salah?

Di sekolah yang akan dibangun di Bekasi inilah yang membuat aku pindah dari Solo. Kota yang banyak memberikan kenangan dan pengalaman. Di sekolah Bekasi akan menggunakan kurikulum yang berbeda dengan kurikulum yang dipakai oleh SLB. Di sana menggunakan Metode Bilingual. Yaitu bahasa isyarat sebagai bahasa pengantar pertama dalam pembelajaran. Dan bahasa Indonesia adalah bahasa kedua.

Aku belum tahu akan seperti apa kehidupan di Bekasi. Yang di Solo kehidupan sudah tertata. Pagi hari mengajar di SLB, sore belajar, dan malamnya kegiatan bersama Gerkatin Solo dan DVO. Tiada hari tanpa bertemu mereka. Bahkan pada hari Minggu dari pagi sebelum ayam berkokok hingga berganti hari masih bersama kawan-kawan Gerkatin Solo dan DVO. Aktivitas yang melelahkan namun terasa begitu menyenangkan.

Solo begitu banyak kegiatan antara tuli dan volunteer, entah itu ada rapat rutin ataupun belajar Bahasa Indonesia ataupun belajar Bahasa Isyarat. Tiap hari ada aja kegiatan. Di Bekasi bagaimana budaya tuli di sana, aku belum punya gambaran. Bahkan aku tidak punya kenalan tuli asal Bekasi. Tapi biar bagaimanapun, ini masih dalam dunia tuli, dunia yang sangat luar biasa.

Telah banyak kegiatan yang aku lalui bersama Gerkatin Solo. Setiap dua minggu sekali kami membuka stand bahasa isyarat di Car Free Day (CFD). Belajar bahasa isyarat di CFD ini adalah yang pertama di Indonesia yang digelar secara rutin. Hal yang sangat membanggakan tentunya. Melihat teman-teman tuli yang konsisten membuka stand di CFD, serta melihat kompaknya kerja sama antara tuli dan volunteer. Aku awalnya tidak mengetahui seberapa besar dampak dari membuka stand di CFD ini, karena kami melakukannya dengan harapan masyarakat Solo sadar akan adanya tuli yang memakai komunikasi dengan bahasa isyarat dan mengedukasi masyarakat bahwa bahasa isyarat bukan “bahasa tarzan.”

Di benak teman-teman tuli dan volunteer tidak ada harapan yang tinggi dengan stand bahasa isyarat di CFD ini. Hanya sebatas masyarakat mau belajar bahasa isyarat dan mengerti setidaknya abjad bahasa isyarat. Namun, Tuhan memiliki rencana lain. Kami tidak menyangka bahwa kegiatan CFD yang selalu kami unggah di media sosial ternyata memiliki dampak yang sangat besar bagi tuli, bagi tuli di Indonesia. Wow apa ini terlalu berlebihan? Tuli di Indonesia memandang kegiatan kami sebagai kegiatan yang luar biasa, yang tak pernah dilakukan oleh komunitas tuli dimanapun. Secara diam-diam kegiatan kami di CFD menjadi inspirator bagi komunitas tuli daerah lain untuk melakukan hal yang sama.

Selain kegiatan di CFD, kami melakukan kegiatan dengan berbagai komunitas di Solo. Sekali lagi, harapan kami hanya bisa ikut berpartisipasi dalam kegiatan komunitas di Solo dan menjalin kerja sama dengan mereka. Tapi, itu tidak sesuai harapan kami karena kami bahkan dilibatkan lebih jauh lagi. Woow di luar prediksi kami semua. Setiap ada acara di Solo, Gerkatin Solo tidak pernah absen dari undangan, baik itu kegiatan pemerintah maupun kegiatan sosial dan komunitas.

Semakin berkembangnya Gerkatin Solo, kebutuhan akan tenaga yang support kegiatan juga semakin besar. Deaf Volunteering Organization (DVO) yang baru seumur jagung pun menjadi semakin berkembang pesat. Banyak volunteer baru yang bergabung bersama DVO. Banyak sekali kegiatan yang diadakan oleh Gerkatin Solo dan DVO. Dimana ada Gerkatin Solo pasti di situ ada DVO. Karena kami adalah dua kesatuan, dwitunggal. Volunteer yang tergabung dalam DVO kemampuannya sudah semakin meningkat, baik kemampuan dalam volunteering maupun kemampuan dalam berbahasa isyarat. Karena semua kegiatan Gerkatin Solo berhubungan dengan bahasa isyarat maka mau tidak mau kami semua berkomunikasi dengan bahasa isyarat.

Dan dari situlah kemampuan bahasa isyarat teman-teman volunteer diasah. Kami bisa karena terbiasa. Karena terbiasa menjadi teman, sahabat, volunteer, rekan, tim, dan keluarga dengan kawan-kawan tuli. Kami menganggap semuanya adalah keluarga. Ikatan sudah sangat kuat. Itulah yang membuat aku berat meninggalkan mereka semua. Meninggalkan semua kenangan yang sudah tertancap di memori hati.

Baiklah kawan, meninggalkan kalian adalah hal yang sangat berat, sedih. Sedih berpisah dengan kalian. Meninggalkan berjuta-juta kenangan dengan kalian. Melewatkan jutaan kenangan yang akan kalian ciptakan. Melihat kalian berkembang tanpa mengikuti proses kalian. Akan terjadi banyak hal yang tak aku rasakan bersama kalian. Tapi inilah hidup, ada pertemuan pasti ada perpisahan. Hanya jarak yang memisahkan aku dan kalian. Namun tahukah kalian, hati dan pikiranku penuh dengan memori perjalanan kita.

Semoga sukses dan semakin berkembang kawan-kawan Gerkatin Solo dan Deaf Volunteering Organization (DVO). Perbanyak masyarakat yang sadar akan keberadaan kalian. Raih cita-cita membentuk masyarakat inklusi dalam waktu cepat. Sebarkan virus-virus inklusi di Solo dan tentunya di Indonesia. Tetaplah menjadi barometer tuli Indonesia. Semoga sukses kawan, doaku selalu menyertai kalian. 

Deaf Volunteering Organization (DVO) & Gerkatin Solo

Tuesday, November 12, 2013

Deaf Volunteering Organization (DVO) Bersama Karya Pelangi


Melihat dunia, melihat indahnya ciptaan Sang Pencipta. Merasakan nikmat segarnya udara yang bebas kita hirup. Mendengar gemiricik sungai dan derunya ombak lautan semakin menambah sempurna kehidupan kita di dunia. Merasakan dengan seluruh indera yang kita miliki belum mampu membuat diri ini bersyukur akan nikmatnya hidup di dunia. Masih merasa tidak sempurna hidupmu?

Mari tengok sahabat kita yang belum tentu mampu merasakan semua itu, tapi semangatnya bahkan ribuan kali lebih besar dari kita. Apakah mereka merasa tak sempurna? Tidak, justru mereka merasakan kesempurnaan karena rasa syukur mereka kepada Tuhan. Melihat semangat kawan-kawan yang selalu bersemangat dalam meraih asa, Karya Pelangi menjadi wadah yang tepat untuk menampung seluruh kisah inspiratif mereka.

Love, Dream, and Disability. Tema yang diangkat oleh Karya Pelangi. Deaf Volunteering Organization (DVO) melihat Karya Pelangi kelak dapat menjadi inspirator serta motivator bagi para pembaca. Karena Karya Pelangi memiliki visi yang sama dengan DVO, sehingga DVO sangat senang dapat mendukung acara ini. Sesuai nama kami, Deaf Volunteering Organization, kami bergerak dalam dunia disabilitas, khususnya tuli. Namun kami adalah volunteer, yaitu orang-orang berpendengaran normal yang berjuang bersama dengan organisasi tuli dalam memperjuangkan hak-hak tuli di Indonesia.

Perjuangan kawan-kawan tuli di Indonesia masih terus dilakukan. Memang sepertinya tuli tidak butuh banyak bantuan layaknya kawan kita yang berkursi roda, maupun tunanetra. Para pemakai kursi roda dapat aksessibilitas yang cukup baik dengan memodifikasi tangga menjadi sedemikian rupa sehingga dapat diakses dengan menggunakan kursi roda tersebut. Namun bagaimana dengan tuli? Mereka tidak mengalami hambatan fisik maupun intelektual. Apa yang sebenarnya mereka butuhkan?

Tuli membutuhkan akses informasi. Bisa kita lihat, cara berkomunikasi mereka adalah  menggunakan bahasa isyarat. Bahasa isyarat adalah hak tuli, tapi tanpa disadari bahwa selama ini kita telah merampas hak mereka. Di sekolah-sekolah mereka dipaksa menggunakan oral dan dilarang memakai bahasa isyarat. Banyak anggapan “miring” bahwa bahasa isyarat akan membuat tuli menjadi bodoh. Sangat ironis memang, yang seharusnya dalam dunia pendidikan tuli akan mendapatkan banyak informasi, tapi tak semua informasi itu terserap karena disampaikan dengan oral.

Dunia pendidikan tak mampu memberikan informasi yang utuh kepada tuli, maka tuli mencari sumber informasi lain, menonton TV salah satu alternatifnya. Seperti yang kita tahu, TV adalah sumber informasi yang cepat dan selalu up to date. Banyak peristiwa yang baru saja terjadi di belahan dunia lain dan dapat ditayangkan di TV dalam waktu yang hampir bersamaan. Televisi sangat menarik bagi kita, karena merupakan media audio-visual. Tapi sekali lagi, tuli tidak mendapatkan haknya akan informasi. Di TV tidak ada penerjemah bahasa isyarat yang dapat menerangkan apa yang ditayangkan kepada kawan-kawan tuli. Sehingga mereka hanya bisa “menonton” TV tanpa mengetahui apa yang diberitakan.

Biasanya anak-anak tuli menonton TV bersama keluarga di rumah, saat menonton acara komedi yang mana seluruh keluarga tertawa tapi anak tuli tidak tahu apa yang lucu dari acara tersebut karena tak mendengar yang dikatakan oleh komedian. Kadang saat kita menunggu panggilan nomer antrean di kantor pemerintahan, yang mana tidak ada informasi visual yang menunjukkan nomer berapa antrean saat itu. Hal ini sangat menyulitkan teman-teman tuli. itu adalah beberapa contoh yang dialami oleh tuli, yaitu keterbatasan akses informasi.

Peran DVO adalah memberikan contoh nyata kepada masyarakat bahwa antara orang dengar dengan tuli bisa berjalan beriringan. Kami memang volunteer, tapi bagi DVO, teman-teman tuli adalah partner, teman, serta sebagai sahabat. Hubungan volunteer dengan tuli begitu dekat dan hangat, karena saat dimana tuli tidak mendapatkan hak-haknyanya, itu adalah luka bagi kami juga.  Kami melakukan banyak kegiatan bersama dengan Gerkatin Solo, antara lain workshop bahasa isyarat, sosialisasi bahasa isyarat, advokasi pemerintah, pembelajaran manajemen organisasi, serta banyak acara-acara yang dilakukan bersama.

Saat ada teman tuli yang mengikuti seminar, dari DVO menjadi interpreter atau penerjemah bahasa isyarat untuk mengisyaratkan apa yang narasumber bicarakan. Karena apabila tidak ada penerjemah dalam acara tersebut, tuli tidak mendapatkan informasi yang utuh dari acara tersebut. Selama tiga tahun ini, DVO bersama Gerkatin Solo terus-menerus mengikuti berbagai acara di luar komunitas tuli. Hal ini bertujuan agar masyarakat mengerti bahwa penerjemah sangat dibutuhkan apabila ada teman-teman tuli yang menghadiri acara tersebut. Kami bersyukur saat ini sudah banyak komunitas di Solo yang semakin paham dengan hak-hak tuli, yaitu penggunaan bahasa isyarat, penerjemah, serta hal-hal yang sifatnya visual. DVO dan Gerkatin Solo berharap, seluruh masyarakat Indonesia bisa memahami hak-hak tuli sebagaimana yang masyarakat Solo tunjukkan kepada tuli. Masyarakat yang menghormati budaya tuli merupakan masyarakat yang inklusif.

Dengan adanya Karya Pelangi ini, harapan kami masyarakat akan lebih menyadari peran serta difabel di masyarakat, karena mereka juga adalah anggota masyarakat. Sudah bukan saatnya kelompok disabilitas ini menjadi kelompok yang termarginalkan. Cerita-cerita dalam Karya Pelangi ini akan menjadi kumpulan cerita inspiratif yang akan menginspirasi orang tua yang memiliki anak dsabilitas, pendidik, masyarakat umum, serta kawan-kawan disabilitas itu sendiri. Mungkin kawan-kawan disabilitas ada yang semangatnya sedang jatuh, harapan kami setelah membaca Karya Pelangi ini dapat membuat mereka menjadi ribuan kali lebih semangat dari hari kemarin.

Kami yakin Karya Pelangi ini akan menjadi sebuah “pelangi” yang sangat indah dan akan muncul banyak “pelangi-pelangi” lain di seluruh pelosok negeri. Mungkin di ujung negeri  banyak sosok pelangi tak berani muncul karena belum ada “hujan” yang turun, harapannya Karya Pelangi ini dapat menjadi “hujan” bagi mereka, sehingga sinar pelangi mereka dapat menerangi sosok-sosok “calon pelangi” yang lain. Bagi para pejuang volunteer dan siapa saja yang ingin menyumbangkan cerita “pelangi”-nya, mari tuliskan ceritamu ke sini. Bagikan kisah inspiratif anda, satu cerita dapat memunculkan satu pelangi. Mari berbagi di sini dan buat semua orang tahu bahwa disabilitas dapat menembus batas.

Deaf Volunteering Organization (DVO) selalu berjuang bersama tuli untuk memunculkan pelangi-pelangi yang masih tersembunyi. Mari bersama-sama mencari sang pelangi! Salam inklusif.